Sitohistoteknologi
Sitohistoteknologi
NAMA : VALANTINE WAAS
NIM :
18 3145353 112
KELAS : 2018 C
"PEMERIKSAAN SITOHISTOTEKNOLOGI"
Sitohistoteknologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang preparasi sel-sel dan jaringan tubuh sampai menjadi sediaan mikroskopis yang digunakan untuk mendiagnosa adanya kelainan-kelainan dalam tubuh
Sitohistoteknologi terdiri dari : Sito berarti sel dan Histo berarti jaringan. Jadi merupakan ilmu yang mempelajari tentang sel dan jaringan. Dalam jaringan pada umumnya terdapat 3 komponen dasar yang menyusunnya yaitu : Sel , Substansi Interseluler dan Cairan.
Diagnosa histopatologi, sampai saat ini masih merupakan kunci dalam diagnosa sebagian besar penyakit. Diagnosa penyakit secara histologi dan sitologi dilakukan secara makroskopis dan mikroskopis. Untuk mendapatkan sediaan mikroskopis diperlukan metode pewarnaan tertentu. Ada beberapa teknik pewarnaan yang dilakukan di laboratorium Sitohistoteknologi, antara lain: pewarnaan Hematoksilin Eosin, pewarnaan Papanicolaou, pewarnaan khusus imunohistokimia, dll. Laboratorium ini memiliki kekhasan dibandingkan laboratorium kesehatan lainnya. Hal ini terlihat dari instrumen dan reagen yang berbeda dan spesifik.
1.
Sel
Merupakan komponen yang bersifat
hidup dalam jaringan dan merupakan unit struktural dan fungsional yang terkecil
dari organisme.
2.
Substansi
Interseluler
Bersifat tidak hidup dan sebagai
hasil produksi sel. Terdapat diantara sel-sel didalam jaringan. Bentuk fisiknya
dapat dipilahkan :
a. Sebagai substansi dasar karena tidak
berbentuk dan dalam keadaan setengah padat.
b. Sebagai serabut.
3.
Cairan
Merupakan komponen yang menonjol dalam plasma darah, cairan limfa, cairan
jaringan
Menurut PERMENKES RI Nomor 411/MENKES/PER/III/2010 menyebutkan bahwa Laboratorium patologi anatomik merupakan laboratorium yang melaksanakan pembuatan preparat histopatologi, pulasan khusus sederhana, pembuatan preparat sitologik, dan pembuatan preparat dengan teknik potong beku. Pelayanan laboratorium Patologi Anatomik menerima spesimen berupa jaringan dan/atau cairan tubuh yang didapat dari tubuh pasien dan bermakna klinis bagi diagnosis suatu penyakit. Pelayanan laboratorium patologi anatomikberperan sebagai baku emas dalam penegakkan diagnosis yang berbasis perubahan morfologi sel dan jaringan sampai pemeriksaan imunologik dan molekuler khusus yang bersumber dari sel maupun jaringan. Patologianatomik berperan dalam mendeteksi kelainan akibat perubahan pada jaringan tubuh dan melakukan penapisan dari suatu penyakit.Peran laboratorium Patologi Anatomik semakin meluas mencakup penentuan pilihan terapi dan prediksi prognosis yang sejalan dengan perkembangan ilmu dan teknologi.
Di dalam laboratorium patologi anatomik ada dua komponen besar dalam pelayanan laboratorium. Dua komponen besar tersebut adalah laboratorium histopatologi dan laboratorium sitopatologi. Laboratorium histopatologi merupakan laboratorium yang menangani spesimen berupa jaringan sedangkan laboratorium sitopatologi menangani spesimen berupa cairan atau bentukan lain yang mengandung sel-sel untuk dilakukan diagnosis. Kedua laboratorium tersebut dapat berkolaborasi menjadi satu ketika spesimen berupa materi mengandung sel namun diperlakukan seperti sebuah jaringan atau organ (cytoblock/sitoblok).
Spesimen yang diterima untuk pemeriksaan spesimen sitologik maupun spesimen histopatologi tercantum dalam Tabel 1 Spesimen sitologik diambil dengan tujuan jaringan memeriksa pada tingkat sel. Spesimen sitologik didapat dari sel yang terlepas (exfoliatif) atau sel yang terlepas dari jaringan. Jenis spesimen yang paling umum yang diterima di laboratorium patologi anatomik adalah spesimen cervical Pap Smear, hal ini dikarenakan Pap Smear merupakan salah satu program pemerintah dalam menurunkan angka kanker servik. Selain itu spesimen yang diterima di laboratorium sitologi adalah spesimen sitologi aspirasi jarum halus (FNA (Fine Needle Aspiration), dimana sel didapatkan dari jarum yang sangat tipis yang dimasukkan ke sebuah lesi berbentuk cairan (misalnya kista tiroid). Selain itu spesimen dapat berasal dari urin, dahak, cairan cerebrospinal, cairan berasal dari bilasandan lain sebagainya yang mengandung materi sel. Lain halnya dengan spesimen untuk laboratorium histopatologi, dimana spesimen untuk laboratorium histopatologi adalah seluruh organ yang diambil dari pasien baik berukuran kecil maupun berukuran besar.
Tabel 1 Spesimen Umum Laboratorium Sitologi dan Histologi
|
Sitologi |
Histologi |
|
Goresan
Sel |
Biopsi
Jarum |
|
Aspirasi
Sel |
Biopsi Endoskopi |
|
Cairan
Tubuh |
Biopsi
Eksisi |
adapun alur kerja laboratorium Sitologi dan Histologi dibawah ini
Histopatologi adalah prosedur yang melibatkan pemeriksaan jaringan utuh yang diambil melalui biopsi atau operasi di bawah mikroskop. Pemeriksaan ini sering dibantu oleh penggunaan teknik pewarnaan khusus dan tes terkait lainnya, misalnya penggunaan antibodi untuk mengidentifikasi berbagai komponen jaringan pada tubuh. Histopatologi adalah salah satu pelayanan pemeriksaan laboratorium Patologi Anatomi dari sampel berupa jaringan operasi/biopsi, kerokan. Pemeriksaan ini berfungsi untuk melihat perubahan morfologi sel dari jaringan dengan metode paraffin. Pemeriksaan ini adalah gold standard untuk menentukan kelainan neoplasma atau non neoplasma serta menentukan terapi selanjutnya. Histologi amat berguna dalam mempelajari fungsi fisiologi sel-sel dalam tubuh, baik manusia, hewan, serta tumbuhan, dan dalam bentuk histopatologi ia berguna dalam penegakan diagnosis penyakit yang melibatkan perubahan fungsi fisiologi dan deformasi organ. Sebagai contoh, di bidang kedokteran, kehadiran tumor memerlukan hasil pemeriksaan contoh (sampel) jaringan. Di bidang pertanian, pemeriksaan kondisi jaringan pengangkut dapat mendukung diagnosis serangan hawar daun tembakau.
Adapun prosedur untuk fiksasi jaringan adalah sebagai berikut :
1. Potong
spesimen jaringan/organ dengan ukuran kurang lebih 4 mm
2. Rendam
dengan larutan fiksasi sesuai dengan tujuan pewarnaan atau komponen target
3. Tunggu
hingga tahap fiksasi selesai sempurna
4. Cuci dengan air mengalir atau aquades (jika
diperlukan)
5. Lakukan tahap selanjutnya.
Mengingat target dari jaringan berbeda-beda seperti jenis sel yang ditemukan atau komponen lainnya (kimiawi atau imunologi) maka berikut ini akan dibahas tentang jenis-jenis larutan fiksasi untuk jaringan.
1. Formalin
merupakan nama dagang dari suatu larutan yang mengandung 40% b/v (= 40% b/b) formaldehida (yang merupakan gas) di dalam air. Sebagian besar formaldehida hadir sebagai polimer larut, yang dipolimerisasi pada suatu larutan. Formalin mengandung sekitar 10% metanol, yang ditambahkan oleh produsen untuk menghambat pembentukan polimer yang lebih tinggi, yang menghasilkan suatu larutan yang biasa disebut dengan paraformaldehida. Formaldehida itu sendiri adalah senyawa yang bereaksi dengan protein dan ada pada konsentrasi yang sangat rendah yaitu 4% formaldehida dalam larutan. Struktur kimia formaldehida terlihat dalam Gambar x.
Gambar 3 Struktur Kimia Formalin dan reaksinya dengan protein.
Larutan fiksatif yang paling umum digunakan untuk histopatologi adalah larutan 4% formaldehid yang biasa disebut dengan formalin 10%. Penggunaan larutan ini telah 50 tahun digunakan, hal ini dikarenakan larutan fiksatif dapat mempertahankan ph netral dan memiliki tekanan osmotik yang sama dengan cairan ekstraseluler. Untuk memastikan bahwa penggunaan formalin mencapai pH yang netral maka dilakukan dengan menambah garam sehingga disebut dengan netral buffered formalin, atau NBF.
Fiksasi sangat mempengaruhi hasil suatu pewarnaan sediaan histologik dan imunohistokimia. Seorang teknisi patlogi anatomi, patolog maupun peneliti harus dapat memutuskan metode yang paling tepat dalam hal fiksasi ini. Aspek yang perlu dipertimbangkan adalah suhu, ukuran wadah penyimpanan, rasio volume, konsentrasi garam buffer, ph dan waktu inkubasi. Fiksasi formalin biasanya dilakukan pada suhu kamar, menggunakan wadah spesimen rendah dan lebar untuk memungkinkan penetrasi yang optimal dan kemudahan dalam pengambilan spesimen oleh teknisi. Pilihan terbaik untuk rasio volume adalah 1:20, dan dimensi jaringan sebesar 3-4 mm. Untuk mencegah pembengkakan atau menyusut dari sel-sel maka larutan dibuat isotonik dengan ph 7,2-7,4 dianjurkan, dan juga untuk mempertahankan ultrastruktur sel serta meminimalkan distorsi sel. Semakin pendek waktu jeda pengambilan jaringan dari tubuh terhadap waktu perendaman dalam larutan fiksatif membuat hasil semakin baik. Waktu paparan fiksatifpun harus dioptimalkan untuk setiap jenis spesimen. Sebagai contoh, target dari glikogen di hati dapat dijadikan subjek dari artefak fiksasi. NBF akan menembus secara perlahan melalui membran hepatosit, dengan waktu penetrasi pada sel hepatosit ini glikogen yang berhubungan dengan matriks protein sitoplasma akan terpindahkan ke satu sisi dari sel. Hasil ini disebut sebagai polarisasi dan dianggap bagian dari morfologi ketika membedakan hasil dari pewarnaan (Gambar 4.8: polarisasi glikogen). Sediaan ini adalah contoh yang bagus untuk dijadikan kontrol dari spesimen yang telah lama direndam dalam larutan fiksatif yang mengandung formalin. Perubahan tersebut menunjukkan terjadi perubahan morfologi yang ekstrim
Gambar 4.Sediaan histologik yang difiksasi dengan larutan formalin dan diwarnai dengan pewarna Periodic Acid Schiff. Terlihat posisi glikogen yang terpolarisasi di sisi sel yang berwarna magenta dengan inti ditengah berwarna biru.
2. Larutan Bouin
André Bouin (1870-1962) menemukan beberapa
campuran fiksatif di tahun-tahun 1895-1900. Larutan Bouin sendiri berisi 10%
formaldehida (25% formalin), asam asetat 0.9 M dan 0.04 M asam pikrat yang
dilarutkan di dalam air. Asam pikrat menembus jaringan agak lambat,
mengentalkan protein dan dapat menyebabkan beberapa penyusutan. Selain
penggunaan asam pikrat akan menyebabkan jaringan menjadi berwarna kuning.
Larutan Bouin ini memiliki pH berkisar 1,5 – 2. Penetrasi menggunakan larutan
Bouin imi lebih cepat daripada penggunaan NBF. Efek komplementer dari ketiga
komponen penyusun larutan Bouin ini bekerja baik untuk mempertahankan morfologi
sel. Spesimen biasanya direndam dalam larutan Bouin selama 24 jam. Namun ketika
penyimpanan terlalu lama di dalam campuran ini dapat menyebabkan hidrolisis dan
hilangnya DNA dan RNA. Hal ini mengharuskan jaringan yang difiksasi dengan
larutan Bouin harus dilakukan pencucian terlebih dahulu sebelum di proses lebih
lanjut. Penggunaan larutan Bouin ini sangat cocok ketika sediaan hendak
dilakukan pewarnaan menggunakan pewarnaan Trichrome. Pewarnaan Trichrome
menggunakan kombinasi tiga pewarna dengan tambahan asam phosphotungstic atau
phosphomolibdic sebagai bagian dari peningkatan warna sitoplasma, serat kolagen
dan komponen lainnya dari jaringan.
Adapun larutan-larutan yang sering digunakan sebagai
larutan fiksasi adalah sebagai berikut :
a. Netral
Bufer Formalin 10%
1.
Aquades 900 ml
2.
Formalin (37% formaldehide) 100 ml
3.
Natrium diHidrogen Phospat
4.
(NaH2PO4) 4 gram
5.
DiNatrium Hidrogen Phospat
6.
Na2HPO4) 6.5 gram
Campurkan semua komponen menjadi satu, dan ukur hingga pH campuran sebesar 7.2 – 7,4. Ketika pH belum mencapai yang diharapkan maka tambahkan dengan perbandingan NaH2PO4 dan Na2HPO4 = 1:1,625 hingga pH sesuai, namun kita pH terlalu basa maka bisa ditambahkan dengan asam asetat sedikit demi sedikit hingga pH turun sesuai dengan yang diharapkan.
b. Larutan
Bouin
1.
Asam pikrat 2,1% dalam aquades 1500 ml
2.
Formalin (37% formaldehide) 500 ml
3.
Asam Asetat Glasial 100 ml
Efek
dari penggunaan larutan fiksasi ini akan menghasilkan warna kuning. Warna
kuning ini dapat dihilangkan dengan perendaman di alkohol 70%, lithium karbonat
atau pewarna asam yang dibarengi atau secara terpisah pemberiannya ketika
proses pewarnaan.
B. Teknik Sediaan Sitologik
Sedangkan,
sitopatologi adalah pemeriksaan sel tunggal atau kelompok sel kecil dari cairan
atau jaringan di bawah mikroskop. Sederhananya, prosedur ini dilakukan dengan
mengoleskan cairan sampel atau jaringan dari pengidap pada slide yang kemudian
diperiksa di bawah mikroskop untuk melihat jumlah sel, jenisnya, dan bagaimana
rinciannya. Sitopatologi umumnya digunakan sebagai alat skrining untuk mencari
penyakit dan memutuskan apakah perlu dilakukan tes lanjutan. Contoh umum dari
sitopatologi adalah pap smear, sputum, dan gastric washing.
Tes
sitopatologi kadang-kadang disebut tes smear karena sampel dapat dioleskan pada
slide mikroskop kaca untuk pewarnaan dan pemeriksaan mikroskopis selanjutnya.
Namun, sampel sitologi dapat dibuat dengan cara lain, termasuk
sitosentrifugasi. Jenis tes smear yang berbeda juga dapat digunakan untuk
diagnosis kanker. Dalam pengertian ini, itu disebut smear sitologi .
Layaknya spesimen
jaringan, spesimen sel pun harus melalui yang namanya fiksasi. Fiksasi spesimen
sitologi yang sempurna adalah prasyarat untuk diagnosis sitologi dengan benar.
Jika fiksasi jaringan seperti yang disebutkan pada topik di atas hanya
dilakukan dengan tahap perendaman, berbeda dengan fiksasi pada sediaan
sitologik terbagi menjadi beberapa bagian yaitu fiksasi kering, fiksasi lembab
dan fiksasi basah. Pada jenis fiksasi basah, sediaan sitologik harus direndam
dalam larutan fiksasi terpilih segera setelah pengambilan spesimen sitologi
masih dalam kondisi yang lembab. Fiksasi spesimen sitologi yang dilakukan
dengan segera dilakukan guna mencegah pengeringan dan perubahan bentuk sel akibat
faktor luar. Hasil dari fiksasi tersebut akan memungkinkan pewarnaan menjadi
jelas dan tentunya menghasilkan diagnosis yang benar. Lain halnya ketika
fiksasi sitologi dilakukan dengan teknik pengeringan, metode ini dilakukan
untuk sel-sel yang relatif kuat dari faktor lingkungan dan digunakan untuk
jenis pewarnaan yang memiliki prinsip sederhana
Idealnya fiksasi yang
dilakukan pada sediaan sitologik hampir sama kriteria dengan fiksasi yang
dilakukan pada sediaan jaringan. Kriteria-kriteria yang harus diperhatikan
dalam fiksasi sediaan sitologikadalah :
1. Mempenetrasi
sel dengan cepat
2. Minimal
menjaga sel dari kerusakan atau kehilangan komponen sel layaknya ketika sel
masih dalam kondisi hidup.
3. Menjaga
secara struktur sel maupun komponen sel (kimiawi, enzimatik, imunologi)
4. Menghentikan
proses metabolisme autolisis
5. Menghentikan pertumbuhan selular dan mikroorganisme.
6. Meningkatkan diferensiasi optik dan
meningkatkan pewarnaan struktur dan komponen sel.
Seperti
yang telah disebutkan di atas, fiksasi dari sediaan sitologik terbagi menjadi
beberapa bagian yaitu :
1. Fiksasi
basah
Metode ini adalah
metode yang ideal untuk menjaga suatu sediaan sitologik baik sitologi
ginekologi ataupun sitologi non-ginekologi. Larutan fiksasi basah dapat terdiri
dari :
a. Alkohol
95-96%
b. Methanol
absolut.
c. Eter:
alkohol 95%
d. Propanol
dan isopropanol 80%
e. Denaturasi
alkohol
f. Formalin
Based
2.
Fiksasi “Coating“
Fiksatif
Coating merupakan fiksasi yang dilakukan untuk pengganti fiksatif basah.
Fiksasi ini dilakukan dengan memberikan aerosol (penyemprotan) pada spesimen
sitologi yang dibuat secara konvensional maupun dengan metode berbasis cairan.
Fiksasi ini terdiri dari alkohol dan polietilen glicol yang berfungsi sebagai
pelapis dari sediaan sitologik menyemprotkan lapisan diaphine (Hairspray)
dengan kandungan alkohol yang tinggi dan minimal lanolin atau minyak dapat juga
menjadikannya fiksatif yang efektif.
3.
Fiksasi Kering
Fiksasi kering merupakan fiksasi yang dilakukan pada sediaan
sitologik yang dilakukan dengan mengeringkan sediaan tersebut di udara terbuka
(udara kering) atau dengan bantuan pemanasan hingga kering (penggunaan hotplate
dengan suhu maksimum 50OC). Sediaan sitologik harus diproses dan dikeringkan
dengan segera untuk menghindari munculnya artefak. Salah satu keuntungan dari
fiksasi ini adalah pembuatan dan pewarnaan yang cepat (2-3 menit). Pewarnaan
cepat berguna dalam penilaian awal dari kelayakan spesimen sebelum pasien
diperkenankan untuk meninggalkan ruang pengambilan spesimen. Untuk sediaanyang
menargetkan koloid, mucin, butiran sitoplasma endokrin dan lain-lain akan lebih
baik jika dilakukan fiksasi kering. Hal ini juga berguna pada pasien dengan
indikasi keganasan hematologi seperti limfoma atau leukemia.
4.
Fiksasi Khusus
a.
Fiksasi Carnoy
Fiksasi ini adalah fiksasi yang dikhususnya untuk spesimen
yang hemoragik. Asam asetat dalam larutan fiksatif ini akan melisiskan sel
darah merah. Fiksasi ini sangat baik untuk melihat detai dari inti serta
pengawet untuk glikogen. Namun fiksasi ini akan menghasilkan penyusutan pada
sel dan cenderung menghasilkan pewarnaan yang lebih di hematoxylin. Kelebihan
waktu dalam fiksasi inipun akan menyebabkan kerusakan pada materi kromatin.
Adapun perbedaan dari
fiksasi basah dan kering adalah sebagai berikut :
Tabel 4. Perbedaan
Penggunaan Teknik Fiksasi Sitologik



Good
ReplyDeleteTerimakasih sudah sangat membantu, 👍👍
DeleteTerima kasih. Sangat membantu
ReplyDeleteTerima kasih atas ilmunya..sangat bermanfaat
ReplyDeleteThis comment has been removed by the author.
ReplyDeleteGood👍
ReplyDeleteGood😍
ReplyDeleteTerima kasih atas ilmunya ,ini sangat bermanfaat
ReplyDeleteTrimksh sudh sangat membantu😊
ReplyDelete👏
ReplyDeleteGodd
ReplyDeleteTrimksh suda membntu
ReplyDeleteThanks
ReplyDeleteGod
ReplyDeleteThanks💫
ReplyDeleteTerima kasih ilmunya sangat membantu
ReplyDeleteTerimahKasih SungguH sangat membantu
ReplyDeleteGood👍
ReplyDeletegood👍
ReplyDeleteterimakasih atas ilmunya,ini sangat bermanfaat
ReplyDeleteGood����
ReplyDeleteBagus
ReplyDeleteGood job
ReplyDeleteSangat bermanfaat
ReplyDeleteSaya sangat berterima kasih atas informasinya
ReplyDeleteWah thanks gan. Udah beberapa hari cari' materi ini akhirnya ketemu.
ReplyDeleteTerimakasih atas ilmunya, sangat bermanfaat 👍
ReplyDeleteBermanfaat bnget
ReplyDeleteDitunggu artikel selanjutnya👍
ReplyDeleteSemangat bundacuu.. sangat bermanfaat😊👍
ReplyDeleteMantappp👍👍
ReplyDeleteTerima kasih untuk ilmunya yang bermanfaat sehingga bisa menambah wawasan tentang sitohistoteknologi
ReplyDeleteNice 👍
ReplyDeleteTrimakasih Atas ilmunya.....Ini Sangat Bermanfaat
ReplyDelete😇
ReplyDeleteTerima Kasih ilmunya sangat membantu 👍
ReplyDeleteDi tunggu artikel selanjutnya
Terima kasih kak, untuk ilmunya sangat membantu saya.🙏
ReplyDeleteverrygod 💙
ReplyDeleteTerimakasih Kaka, untuk ilmunya🙏
DeleteGood
ReplyDeleteArtikelnya menarik dan jelas namun ditambh gamabrnya lagi
ReplyDeleteGood😊
ReplyDeleteGood👍
ReplyDeleteGood👍
ReplyDelete